Setiap orang mendambakan kata satu itu “Bahagia”, namun seringkali kita terbentur oleh berbagai kendala. Dan kendala terbesar justru ada pada diri kita sendiri.Melalui tulisan ini, saya mengajak anda untuk keluar dari pola pikir lama tentang bahagia dan mulai berpikir yang baru tentang BAHAGIA yang hakiki dunia dan akhirat.
Ada sebuah anekdot spiritual yang terkenal :
Seorang ulama’ terkenal Syekh Nashiruddin namanya , suatu hari beliau sengaja berpura – pura mencari sesuatu yang hilang di depan rumahnya.Ketika tetangga dan murid2nya menyaksikan hal tersebut,maka mereka bertanya ,”Sedang cari apa wahai guru ?”.Sang guru Nashiruddin menjawab “sedang mencari jarum saya hilang tadi malam ketika saya menjahit didalam rumah “.
Dengan saling memandang tetangga dan murid2nya,mempertanyakan…”hilang di dalam rumah kok dicari di luar rumah “….gak mungkin ketemu doong..
Sementara sang guru tetap masa bodoh dengan sikap orang2 di sekelililngnya.
Begitu malam berikutnya ada kegiatan pengajian rutin di padepokan Syekh Nashiruddin..materinya megejutkan para jama’ah..
Syekh Nashiruddin bertanya kepada para jama’ah ‘”saudara2 ,tadi siang anda melihat saya mencari jarum saya yang hilang di dalam rumah dan saya cari di luar rumah..betul gak ?..semua jama’ah serentak menjawab ..”yaa…”
Sang guru bertanya kembali ,”menurut anda pekerjaan saya tadi menghasilkan nggak ?..Jama’ahpun menjawab serentak…”Nggaaakkk…”
Akhirnya Sang guru bertanya lagi, “Saudara – saudara…saya tahu selama ini anda juga mencari sesuatu yang bernama bahagia…ya nggak ?...,Serentak jama’ah menjawab…”yaaaa….”
Sang guru melanjutkan..”Kalau begitu saya ingin tahu…dimana selama ini Bahagia itu kok anda cari..?...tentunya ada tempatnya…karena anda semua mencari….,Semua hadirin diam tertegun…seolah tertampar mukanya dan bertanya pula “ iya ya…di mana ya bahagia itu?”.
Setelah hening sejenak , akhirnya ada beberapa orang memberanikan diri menjawab..bahagia itu..di rumah mewah,mobil mewah..uang berlimpah…,
Yang lain menjawab,bahagia itu di rumah yang suami istrinya dan anak2nya sholeh dan sholehah…
Dan masih banyak lagi pendapat2 tentang bahagia di majlis tersebut.
Sang guru menukas “”berarti klo apa yang anda sebutkan tadi tidak anda dapatkan berarti anda akan menderita “…begitukah hidup itu ?.
Akhirnya ada lagi yang kelihatannya lebih cerdas dan hati2 menjawab “Wahai guru yang saya tahu selama ini bahagia itu di sini (sambil menunjuk ke arah dada ), yang dimaksud adalah bahagia itu di hati…
Seketika itulah Sang guru berkata,”betul…”…bahagia itu di hati…lalu kenapa sekarang manusia mencari bahagia dengan bersyarat…harus ada harta ,tahta,dan seluruh hal yang materiil…Maka ketahuilah para jama’ah…inilah kehancuran peradaban manusia karena mengira bahagia itu dengan hal2 yang diluar dirinya. Padahal bahagia itu sudah tersedia dalam dirinya tinggal mengaktifkan saja.
Kalau sudah aktif rasa bahagia di hati,maka harta dunia dan segala isinya akan mendatangi kita…bagaimana caranya ….? ( ikuti bagian 2 tulisan ini )
