100 % 'takdir kesuksesan' kita ada di tangan kita ?|PELATIHAN DAN PENGEMBANGAN SDM
Segala sesuatu yang terjadi pada diri kita, baik itu 'sukses' atau 'gagal', 'menguntungkan' maupun 'merugikan', 'menyenangkan' atau 'menyedihkan' itu akibat ulah siapa ?
Ulah kita sendirikah ? atau ulah orang lain ? atau ulah makhluk lain, atau bahkan ulah Tuhan ?
Biasanya, bila kita diskusikan tentang hal ini, maka banyak diantara kita yang kepentok. Ujung-ujungnya adalah takdir. Terlalu banyak variable dalam mengklarifikasi pembahasan penting ini.
Mari kita urai di sini secara sederhana saja. Semoga bermanfaat.
Manusia hidup di dua wilayah kekuasaan, terkait dengan tindakan yang dilakukannya.
- Wilayah yang dia menguasainya : di sini manusia bisa memilih.
- Wilayah yang dia tidak menguasainya : di sini manusia dipaksa / terpaksa.
Wilayah PERTAMA
Di sini, kita bebas memilih. Mau sarapan nasi atau roti ? Roti keju atau roti pisang ? terserah kita.
Mau yang mana. kita bebas memilih atau tidak memilih. wilayah ini adalah wilayah ikhtiar. Berusaha.
Wilayah KEDUA
Di sini, kita hanya menjalani.
Sikap terbaik adalah menerima. Tidak protes, apa yang sudah ditentukan
Allah kepada kita. Di sini wilayah Menerima, tawakkal. Tawakkal itu
sikap yang lahir dari kita. dan itu pilihan kita. Di sini kita masih ada
pilihan, yaitu mau tawakkal atau protes (dalam bentuk mengeluh atau
menyesali kejadian). Cara berhasil di wilayah ini adalah dengan memilih
sikap tawakkal. Barang siapa yang tawakkal di sini, maka sangat
berpengaruh terhadap usaha di wilayah pertamanya.
Jadi, takdir kesuksesan itu tetap ada di tangan kita. Usaha
bangkrut, mau memilih menyesali seumur hidup dan bahkan bunuh diri ?
ATAU tawakkal, dan tetap optimis lalu bangkit ?
Kesuksesan
kita sangat ditentukan pada sikap kita di masing-masing wilayah dengan
sikap yang benar. Bagi seorang mukmin, apapun yang terjadi pada dirinya,
di masing-masing wilayah tersebut, pasti menjadikannya semakin hebat.
Hebat syukurnya, dan hebat sabarnya.Orang-orang yang sukses, bukanlah mereka yang tidak pernah gagal atau mengalami kepahitan dalam hidup, namun orang-orang yang sukses memilih terus bergerak dan tidak putus asa. Rasa penerimaan terhadap kegagalannya tinggi, sehingga kegagalan tidak menjadikannya terkurung dalam penjara mental kesedihan dan penyesalan tiada henti.
Mari Sobat, kita menyatukan ikhtiar dan tawakkal di setiap tindakan kita, pada porsinya yang tepat di wilayah yang tepat. Keputusan kita, tindakan kita, pasti membuahkan hasil yang luar biasa. Seiring dengan waktu.
