Pelari marathon|Training otivasi
Hidup itu seperti lari marathon. napas kita tak akan
kuat jika terus berlari kencang. diri kita tidak akan sanggup untuk terus
menerus berlari mengejar semua tujuan dan impian. Manusia dilahirkan bukan
sebagai robot yang terus bekerja tanpa beristirahat.
Sprint hanya dibutuhkan untuk medan yang pendek, sedangkan kehidupan itu sendiri, sungguh panjang. Meski kita tak akan mampu menerka kapan kita dipanggil menghadap-Nya, secara kasar kita bisa menghitung rata2 hidup manusia. Menurut survei umur manusia itu rata-rata 60-70 tahun, dan memang usia manusia itu ya rata-rata sekitar itu.
Sprint hanya dibutuhkan untuk medan yang pendek, sedangkan kehidupan itu sendiri, sungguh panjang. Meski kita tak akan mampu menerka kapan kita dipanggil menghadap-Nya, secara kasar kita bisa menghitung rata2 hidup manusia. Menurut survei umur manusia itu rata-rata 60-70 tahun, dan memang usia manusia itu ya rata-rata sekitar itu.
Lalu panjangkah usia manusia itu? Relatif. Jika dilihat dari kehidupan yang
sesungguhnya yaitu kekekalan alam akhirat atau bila di sandingkan dengan usia
bumi yang sudah milyaran atau trilyunan tahun, pastilah seperti serpihan debu
di Padang Sahara. Tetapi, jika dilihat dari siklus hidup seekor nyamuk yang
hanya beberapa hari, enam puluh tahun itu sungguh lama! Jadi relatif bukan.
Namun kita memakai ukuran manusia rata-rata saja 60 tahun!
Itu waktu yang relatif lama. Sebuah perjalanan yang panjang harus dan akan
kita lewati. Jika diibaratkan berlari maka tentunya ia lebih mirip lomba lari
marathon. Bagaimanakah trik seorang atlet marathon untuk bisa mencapai garis
finish atau bahkan berhasil memenangkan pertandingan?
Pertama,kita haruslah mengerti,
kemana tujuan kita berlari. Lucu sekali jika seorang atlet marathon tak
memahami di mana akhir lintasannya. Pandangan yang jauh ke depan, ke titik
finish, akan membuat kita hidup dengan terarah, tidak berbelok kesana kemari,
yang tentunya akan menghabiskan sekian banyak waktu kita secara percuma.
Kedua, harus senantiasa berlari, dengan tenaga yang terukur sesuai porsi. Tidak
terlampau cepat sehingga tenaga akan terkuras habis di tengah perjalanan,
tetapi juga jangan terlalu pelan sehingga kiia akan tersalip para pesaing. Jadi
seperti itu pula hidup kita . Jika kita terlalu berlebih-lebihan dalam segala
sesuatu, bisa dipastikan kita akan terjatuh kehabisan tenaga. Jadi Lakukan
sesuatu dengan takaran yang pasti.
Ketiga, lakukan apa yang harus kita lakukan secara rutin untuk mencapai
tujuan. Seorang pelari maraton sudah tahu pasti, bahwa yang harus ia lakukan
adalah lari, lari dan lari. Tak perlu ia membuat gerakan aneh, seperti salto,
atau senam di tengah-tengah medan. Selain akan boros waktu, juga boros tenaga.
Betapa dalam kehidupan, kita juga sering sekali melakukan 'salto-salto'
kehidupan yang membuang energi secara percuma.
Keempat, bersabar dan kalahkan rasa
bosan. Melintasi medan sejauh 60-an KM tentu tak sekadar panjang dan melelahkan,
tetapi juga membosankan. Inilah titik kritis yang harus bisa di lewati oleh
para pejuang. Kita sebagai Seorang muslim diperintahkan untuk sabar dan
istiqomah. Amalan yang disukai Allah pun adalah amalan yang rutin, meskipun
sedikit. Maka, mari coba bertekun dalam proses. Apa yang kita lakukan, sedikit
demi sedikit, lama-lama akan menjadi bukit bahkan membesar menjadi gunung. Dan,
capaian prestasi, sungguh berawal dari rutinitas. prestasi adalah kebiasaan
yang berjodoh dengan momentum. Kejuaraan, perlombaan, adalah momentum itu.
Sedangkan kebiasaan positif kita, adalah yang akan menjadikan kita penangkap
momentum itu.
Jadi sobat QFI, mari kita menjadi seorang pelari maraton yang kuat dan
tangguh. Menjadi Maraton kehidupan hingga sampai ke tujuan dari hidup kita!
Salam sukses sehat bahagia luarrr biasa Allooohu akabarr

0 komentar:
Posting Komentar